angry men char
Leadership

12 Angry Men: “Selalu Ada Ruang Untuk Keraguan”

Image

Kira-kira begitulah pesan yang saya dapatkan dari film ini, “selalu ada ruang untuk keraguan”. Namun bukan berarti film ini mengatakan kepada kita kalau kita perlu selalu ragu atas segala hal. Tidak demikian, karena yang dimaksud dengan keraguan dimana menjadi inti diskusi – dan memang sepanjang kurang lebih satu setengah jam film ini berlangsung, di dalamnya hanya berisikan dua belas orang yang sedang berdiskusi di dalam satu ruangan – yang ditampilkan di dalam film ini adalah “keraguan yang beralasan” (reasonable doubt).

Reasonable doubt” menjadi kata kunci yang selalu diucapkan berulang-ulang di dalam film yang menceritakan tentang proses yang dilalui oleh dua belas orang juri dalam persidangan sebuah kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada seorang pemuda – yang hanya muncul selama 30 detik di dalam film ini – dimana korban dari pembunuhan tersebut adalah ayah dari pemuda tersebut. Proses pengambilan keputusan oleh dua belas orang juri tersebut pada awalnya dilakukan secara voting dimana sebelas dari dua belas juri beranggapan bahwa pemuda yang menjadi terdakwa terbukti bersalah atas tuduhan penuntut pengadilan – yang berarti pemuda tersebut akan dijatuhi hukuman mati di atas kursi listrik. Kondisi ini kemudian berubah ketika Henry Fonda yang memerankan pria yang berbeda pendapat dari sebelas orang juri lainnya menyampaikan pendapatnya, yang kemudian dengan berbagai macam proses diskusi, perdebatan, bahkan mengarah kepada perkelahian antar dua belas orang tersebut berubah, dimana keputusan akhir dari dua belas juri tersebut adalah menyatakan bahwa pemuda yang menjadi tersangka dalam pembunuhan tersebut dinyatakan tidak bersalah.

Film ini menarik – kecuali beberapa hal yang menjadikannya sedikit membosakan karena latar lokasi yang digunakan hanya satu buah ruangan kecil dengan meja segi empat di tengahnya, 13 kursi kayu dan lemari jas – karena secara perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit masing-masing juri justru mengungkapkan hal-hal yang kemudian menjadi sanggahan atas pendapat awalnya yang menyatakan bahwa sang pemuda adalah bersalah dalam kasus pembunuhan tersebut. Seperti contohnya, yang menurut saya menjadi kunci penutup dari kesepakatan bulat dua belas juri tersebut adalah ketika salah satu juri (Lee J. Cobb) melemparkan dompetnya yang berisi catatan persidangan dan foto dirinya bersama anaknya yang di awal cerita begitu ia banggakan, dan kemudian pada saat tersebut ia mengeluarkan emosi sebenarnya atas anaknya, dimana sebenarnya ia begitu marah kepada anaknya yang telah dua tahun ini terakhir sudah tidak berkomunikasi dengan dirinya. Pada momen tersebut, ia melanggar kata-katanya sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah merubah pendapatanya bahwa sang pemuda adalah bersalah. Ironi ini yang kemudian menutup proses pengambilan keputusan oleh dua belas juri persidangan.

Menyaksikan film ini, saya teringat dengan buku “The Invisible Gorilla” karangan Prof. Richard Wiseman. Di dalam buku tersebut, Prof. Wiseman mengemukakan banyak hal yang berasal dari penelitiannya bahwa sering kali intuisi kita mencurangi diri kita sendiri. Bahwa kenyataannya banyak hal yang luput dari pengamatan kita walaupun hal tersebut jelas terjadi di hadapan kita dan kita melihatnya, karena intuisi kita secara tidak sadar telah membentuk kesimpulan yang diyakini oleh diri kita lebih cepat dari yang seharusnya, bahkan ketika peristiwa yang sedang terjadi belum juga berakhir. Walaupun dalam beberapa kesempatan, intuisi dapat menjadi senjata yang ampuh dalam mengambil kesimpulan sebagaimana Malcolm Gladwell di dalam bukunya “Blink” mengemukakan demikian, tapi dalam kasus seperti film 12 angry men di atas, rasanya perlu bagi kita untuk lebih memperhatikan dan memberikan tempat bagi sebuah “reasonable doubt”. Pertama, karena masalah yang akan diputuskan menyangkut hidup atau matinya seseorang. Kedua, karena para juri persidangan tersebut bukanlah expert yang telah ribuan kali menjadi juri persidangan, bahkan beberapa diantaranya belum pernah sama sekali menjadi juri persidangan.

Sekali lagi, menurut saya, bukan berarti film ini mengemukakan bahwa seharusnya kita selalu meragukan apa-apa yang terjadi, namun ketika ada sebuah alasan bagi kita untuk meragukan sesuatu hal, perlu rasanya bagi kita untuk berpikir sejenak, apakah keraguan tersebut beralasan. Bila memang beralasan, maka perlu rasanya diri kita melakukan observasi lebih dalam akan permasalahan yang kita hadapi tersebut.  Di samping “reasonable doubt”, hal lain yang secara tersirat dalam film ini adalah “unreasonable belief” – keyakinan yang tidak beralasan. Dimana di dalam film tersebut, pada mulanya para juri persidangan begitu yakin bahwa pemuda yang menjadi tersangka adalah bersalah, dengan asumsi bahwa begitulah yang terjadi pada anak yang dibesarkan di lingkungan yang buruk, dari keluarga yang tidak harmonis, dan selalu diperlakukan kasar oleh ayahnya, sehingga ia memiliki motif untuk membunuh ayahnya. Begitu juga keyakinan kepada dua orang saksi kunci yang masing-masing memiliki keterbatasan, saksi pertama adalah orang yang sudah tua dan terkena stroke, sedangkan saksi kedua memiliki keterbatasan dalam penglihatan, sedangkan pada saat kejadian berlangsung, ada sebuah kereta “el train” yang melintas dan kemungkinan membatasi pendengaran saksi pertama, dan menghalangi penglihatan saksi kedua. Walaupun kedua saksi memberikan kesaksian dengan berusaha menutupi keterbatasan yang mereka miliki.

by the way, supaya rekan sekalian tidak penasaran, berikut adalah trailer 12 angry men

So Long!

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s