politics-econo
Ekonomi, Indonesia, Management

Institusi Sosial sebagai sebuah variabel dalam Teori Ekonomi

Hall dan Jones (1999) di dalam artikel berjudul “Why Do Some Countries Produce So Much More Output Per Worker Than Others?”, yang merupakan hasil penelitian mereka, menemukan bahwa pada tahun 1988 keluaran per pekerja (output per worker) di Amerika Serikat adalah 35 kali lebih tinggi daripada keluaran per pekerja di Nigeria, atau dalam bagian yang lain disebutkan bahwa keluaran per pekerja di lima negara dengan tingkat keluaran per pekerja tertinggi di dunia adalah 31,5 kali lebih tinggi daripada lima negara dengan keluaran per pekerja terendah di dunia. Dalam hal tersebut, di antara 217 negara, mereka menemukan hubungan yang dekat dan sangat kuat antara keluaran per pekerja dan ukuran infrastuktur sosial. dimana perbedaan dalam kekuatan modal dan human capital per pekerja memiliki faktor kontribusi sebesar 1,8 dan 2,2 terhadap keluaran per pekerja. Sedangkan produktivitas memiliki faktor kontribusi sebesar 8,3 terhadap perbedaan tersebut. Sedangkan apabila tidak ada perbedaan dalam hal produktivitas, maka keluaran per pekerja di lima negara terkaya hanya lebih tinggi empat kali dibandingkan lima negara termiskin. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan dalam modal fisik dan tingkat pendidikan hanya memiliki kontribusi yang kecil terhadap perbedaan dalam tingkat keluaran per pekerja di antara negara-negara di dunia.

Lalu apakah sebenarnya faktor produktivitas yang di dalam teori-teori ekonomi biasa dianggap sebagai ceteris paribus atau tidak berubah? Dan bagaimana variabel tersebut menjadi penting untuk dimasukkan ke dalam teori ekonomi sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh paling besar terhadap performance perekonomian suatu negara?

Pentingnya Variabel Infrastruktur Sosial (Insitusi) dalam Teori Ekonomi

World Bank menjelaskan bahwa Institution is the rules, roles, and structured organized by people to conduct their join activities. (World Bank Technical Assistance Handbook, 1996). Sedangkan secara sederhana, Institusi juga dapat dijelaskan sebagai aturan main di dalam masyarakat (North, 1990).

Kembali kepada model dalam perhitungan diatas. Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk menguraikan keluaran per pekerja ke dalam input dan produktivitas. Pendekatan pertama adalah pendekatan yang dibangun oleh Christensen, Cummings, dan Jorgenson (1981), pendekatan kedua adalah dengan menghitung nilai residual pada teknologi dari pendekatan Cobb-Douglass, dan pendekatan ketiga adalah dengan model Solow dimana ketiga pendekatan tersebut memberikan hasil yang sama dalam perhitungan. Dengan menggunakan pendekatan Cobb-Douglas dimana di dalam artikel diatas produktivitas digambarkan sebagai variabel A, hasil pengolahan menunjukkan bahwa perbedaan pada tingkat produktivitas memiliki kedekatan yang sangat besar dengan perbedaan pada keluaran per pekerja di sebuah negara sebagaimana terlihat pada figure I dimana tingkat produktivitas antar negara diplotkan terhadap keluaran per pekerja dan hasilnya adalah korelasi antara kedua serial tersebut adalah 0,89 (dalam nilai log). Sekali lagi perlu diingat bahwa variabel A atau variabel produktivitas di dalam perhitungan ini adalah variabel yang hanya dianggap sebagai resid pada model tersebut.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah mengapa kita menemukan variabel resid yang justru memiliki pengaruh yang dominan di dalam model diatas? Dan variabel resid tersebut (perbedaan produktivitas) sebenarnya menggambarkan apa? Pertama-pertama, dari sudut pandang perhitungan diatas, perbedaan dalam modal fisik dan tingkat pendidikan antara satu negara dan negara lain hanya menjelaskan sedikit terhadap perbedaan keluaran per pekerja, yang berarti kita harus melihat perbedaan lainnya seperti kualitas human capital, proses OJT atau efek hasil panen untuk dapat dengan lebih baik menjelaskan perbedaan keluaran per pekerja yang terjadi antar negara dan kemudian dapat kita masukkan ke dalam fungsi produksi. Interpretasi selanjutnya dari hasil penjabaran model diatas adalah bahwa kita membutuhkan teori perbedaan produktivitas atau yang pada banyak model produktivitas ini disebut sebagai teknologi. Dimana pada perekonomian yang memiliki infrastruktur sosial (institusi) yang tidak kondusif terhadap teknologi yang efisien, maka akan ada sumber daya yang akan dialihkan dan untuk melindungi modal dan tidak digunakan untuk menghasilkan output. Modal tersebut dapat berupa keamanan terhadap pabrik dan mesin-mesin produksi dan lain-lain.

Hubungan antara infrastruktur sosial (institusi) terhadap keluaran per pekerja sekarang semakin jelas, bahwa institusi atau aturan main di dalam masyarakat memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap perbedaan keluaran per pekerja antara satu negara terhadap negara yang lain dimana institusi inilah yang menggambarkan produktivitas di dalam sebuah negara. Institusi dapat berupa batasan formal dan informal. Institusi sebagai batasan formal dapat berupa konstitusi, hukum, hak kepemilikan, peraturan dan lain-lain. Institusi sebagai batasan informal dapat berupa sangsi, kebiasaan, adat istiadat dan lain-lain. Mengulangi bagian terakhir dari paragraf diatas, sebuah institusi yang tidak kondusif di dalam suatu negara akan menyebabkan pengalihan sumber daya yang seharusnya dipergunakan untuk menghasilkan sebuah produk atau keluaran kepada penggunaan lain seperti sistem keamanan dan lainnya.

Sebuah negara dengan institusi yang baik,  seperti jaminan keamanan yang baik, birokrasi yang efisien, penegakan hukum dan lain sebagainya akan memberikan jaminan terhadap produktivitas sebuah negara dimana hal tersebut merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi keluaran per pekerja di dalam model diatas.

Di dalam ekonomi neo-klasik yang telah selama puluhan tahun digunakan sebagai landasan perekonomian di banyak negara, invisible hand yang di dalam teori general equilibrium Adam Smith merupakan preferensi, teknologi, hak milik, dan institusi selalu dianggap sebagai sesuatu yang “given” dan tidak pernah menjelaskan bagaimana invisible hand tersebut bekerja. Selain itu, di dalam teori ekonomi neo-klasik manusia selalu dianggap sebagai agen ekonomi yang perfect rational yang memiliki informasi yang sempurna di dalam aktivitas ekonominya, bertindak untuk selalu memaksimalkan profit (berdasarkan budget constraints-nya), dan menganggap transaksi yang terjadi di pasar dengan tanpa friksi dan tanpa biaya dimana hal-hal tersebut merupakan simplifikasi yang terlalu besar dan hampir-hampir tidak pernah ditemukan di dalam dunia nyata.

Memperhatikan tersebut, perlu dirumuskan pengaruh infrastruktur sosial (institusi) ke dalam teori-teori ekonomi yang berkembang saat ini dimana pada kenyataannya infrastruktur sosial tersebut adalah variabel yang memiliki pengaruh yang paling besar terhadap performance perekonomian suatu negara.

Standard

One thought on “Institusi Sosial sebagai sebuah variabel dalam Teori Ekonomi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s