009indonesia-by01-04
Indonesia

Sedikit Sudut Pandang Pada Kenaikan UMP Ibukota

Gonjang ganjing kenaikan UMP Jakarta masih belum juga reda, sejak penetapan Peraturan Gubernur DKI Jakarta no. 189 tahun 2012 tentang Upah Minimum Provinsi tahun 2013 pada tanggal 20 November 2012 oleh Gubernur DKI Jakarta, demam unjuk rasa menuntut peningkatan UMR di beberapa daerah pun terjadi, terutama di beberapa wilayah yang berdekatan dengan DKI Jakarta, seperti Kabupaten dan Kota Bekasi, Kota Depok, serta Kabupaten dan Kota Bogor. Beberapa daerah yang mampu mengakomodir tuntutan asosiasi pekerja cenderung tidak berkeberatan dengan tuntutan tersebut, namun tentunya bukan Pemerintah Daerah yang akan merasa berkeberatan dan bersuara. Kalangan pengusaha dan asosiasi pengusaha yang kemudian lantang menyuarakan keberatannya terkait keputusan kenaikan upah minimum tersebut.

Dalam tulisan ini, saya akan mengemukakan sedikit pandangan saya terkait peningkatan UMP yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Penetapan UMP yang baru dimana berada di atas UMP yang lama dan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) DKI Jakarta, akan menyebabkan tingkat harga berada pada titik ekulibriumnya. Pada kasus ini karena tidak tersedia informasi mengenai fungsi permintaan dan penawaran tenaga kerja, maka disumsikan bahwa titik ekulibrium antara kurva permintaan dan penawaran terjadi di KHL. Posisi UMP yang berada di atas titik ekulibrium ini secara sederhana akan menyebabkan terjadinya excess penawaran tenaga kerja.

Skenario yang paling banyak dikemukakan oleh banyak pengamat adalah semakin banyaknya tenaga kerja yang bekerja di sektor informal karena dampak rasionalisasi jumlah tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan atau industri karena meningkatnya upah. Selain itu skenario yang banyak dikemukakan adalah akan timbulnya pasar gelap tenaga kerja dimana ada tenaga kerja yang terpaksa menerima upah dibawah nilai UMP karena harus tetap bekerja, namun pada tulisan ini kita tidak akan memperhatikan kondisi yang terjadi luar kondisi wajar.

Dalam hal terjadinya selisih antara nilai UMP dan nilai ekulibirium upah tenaga kerja, maka pengusaha akan melakukan rasionalisasi jumlah tenaga kerja yang digunakan, karena terjadinya peningkatan biaya produksi. Namun hal ini bukan berarti bahwa pengusaha harus menurunkan outputnya karena pengusaha akan berusaha untuk mempertahankan tingkat output sebagaimana pada kondisi sebelumnya.

Rasionalisasi tentu saja akan membuat pengusaha memilih tenaga kerja mana saja yang akan dipertahankan dan yang terpaksa tidak lagi digunakan dimana tentunnya pengusaha akan mempertahankan tenaga kerja dengan kualitas yang lebih baik. Kita dapat berasumsi tenaga kerja yang memiliki kualitas yang lebih baik adalah tenaga kerja dengan kualifikasi yang lebih tinggi. Mengingat pada posisi ini pengusaha memiliki keleluasaan yang lebih besar untuk memilih tenaga kerja yang digunakan.

Pada kondisi ini maka akan terjadi ekuilibrium baru dengan tingkat harga sebesar UMP dan jumlah tenaga kerja yang lebih kecil dari kondisi awal yang boleh jadi akan bertahan untuk beberapa waktu. Mengapa akan bertahan untuk beberapa waktu? Karena pada akhirnya pengusaha harus mengembalikan tingkat outputnya setelah melakukan rasionalisasi. Upaya untuk mengembalikan tingkat output ini akan dilakukan dengan membuat kombinasi baru dari fungsi produksi yang dimiliki antara tenaga kerja (l) dan kapital (k). Perumusan kombinasi baru ini selayaknya bukan hal yang mudah, karena pada akhirnya pengusaha harus mencari kombinasi dengan tingkat output yang sama dengan kondisi awal dengan biaya terendah. Pada kondisi ini kita akan dapat berasumsi bahwa kondisi awal adalah kondisi dimana pengusaha memiliki kesetimbangan paling efisien (kesetimbangan isokuant dan isocost) antara tenaga kerja dan kapital yang digunakan, yang berarti kombinasi yang baru akan memiliki biaya yang lebih besar dari kombinasi sebelumnya.

Bila dalam jangka pendek pengusaha tidak melakukan perubahan pada kapital yang digunakan, maka yang akan dilakukan oleh pengusaha adalah menggeser kembali kurva permintaannya terhadap tenaga kerja ke sisi kanan yang berarti akan terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja dimana pada pergesaran tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan harga tenaga kerja. Hal ini akan terjadi pada kondisi dimana kurva permintaan tenaga kerja lebih inelastis, maka tingkat penurunan jumlah tenaga kerja yang diserap akan lebih kecil daripada tingkat peningkatan UMP. Karenanya, pada sektor industri yang memiliki permintaan tenaga kerja yang lebih inelastik, pengusaha akan cenderung untuk kembali menambah tenaga kerja untuk mempertahankan outputnya.

Namun mengapa pengusaha harus menggeser kembali kurva permintaannya terhadap tenaga kerja ke sisi kanan? Kita pun harus ingat bahwa dengan penetatapan UMP yang baru maka akan terjadi peningkatan kesejahteraan pada sebagian tenaga kerja, yaitu tenaga kerja yang dipertahankan oleh pengusaha, yang juga berarti akan ada peningkatan konsumsi di masyarakat. Sehingga, selain sektor industri yang memiliki permintaan tenaga kerja yang lebih inelastik, sektor industri consumer goods juga akan merasa memiliki peluang untuk meningkatkan outputnya yang diakibatkan oleh terjadinya peningkatan konsumsi di masyarakat.

Pada posisi ini, sebenarnya tidak semua sektor dalam perindustrian mengalami kerugian akibat terjadinya penetapan UMP yang baru, karena ada industri-industri yang mendapatkan keuntungan dari hal tersebut. Walupun pada sisi yang lain, penetapan UMP akan menyebabkan terjadi peningkatan jumlah pengangguran pada industri-industri yang dengan permintaan tenaga kerja yang lebih elastis.

Mungkin ada diantara kita yang kemudian berpikir, bagaimana bila tenaga kerja yang terkena dampak rasionalisasi dialihkan ke sektor industri yang mendapatkan keuntungan dan dapat bertumbuh dengan adanya penetapan UMP tersebut? Saya cenderung untuk berpikir hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan mengingat ada kompetensi khusus yang dibutuhkan untuk mengalihkan tenaga kerja tersebut dari satu sektor ke sektor lainnya, dan inilah barier antar sektor dalam perindustrian.

Melihat kondisi ini, maka pemerintah seharusnya dapat mengambil langkah jangka panjang untuk membuat proporsi yang lebih baik dalam menyediakan tenaga kerja pada sektor-sektor yang memungkinkan bagi tenaga kerja untuk menerima upah yang lebih tinggi, yaitu pada sektor-sektor dimana sifat permintaan tenaga kerjanya lebih inelastik atau sektor-sektor yang mendapatkan keuntungan dari jumlah populasi penduduk Indonesia yang besar yang kemudian bisa saya sebut sebagai sektor yang strategis pada kondisi saat ini.

Pada kondisi ini, sektor pendidikan memiliki peran yang sangat besar untuk mengarahkan ketersediaan tenaga kerja pada sektor-sektor yang strategis tersebut. Selain itu, sektor pendidikan juga dapat dijadikan sebagai insentif bagi pengusaha terhadap trend kenaikan upah yang akan selalu meningkat setiap tahunnya. Apa yang saya maksud dengan insentif bagi pengusaha melalui sektor pendidikan adalah bahwa ketika terjadi kebijakan yang mengharuskan pengusaha untuk meningkatkan upah tenaga kerjanya, maka di sisi yang lain pengusaha juga lebih leluasa untuk mendapatkan tenaga kerja dengan kualitas dan kualifikasi yang lebih baik.

Hal ini pun sedikit banyak memberikan penjelasan bahwa keluhan mahalnya upah tenaga kerja yang akan terjadi dengan adanya penetapan UMP yang baru tidak lantas hanya dikaitkan dengan perbandingan antara tingkat upah tenaga kerja di dalam negeri, yang dalam hal ini adalah wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, dengan tingkat upah beberapa kota lain di beberapa negara tetangga.

ilustrasi gambar fitur:

http://alinsthefenomenal.blogspot.com/2010/03/software-joomla-wordpress-info-hasil.html

Standard

2 thoughts on “Sedikit Sudut Pandang Pada Kenaikan UMP Ibukota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s