home 1
Indonesia

Rumah Besar dan Daerah Otonom…

Just a simple thought

home 1

Bila NKRI ini diibaratkan sebagai sebuah rumah besar, maka provinsi-provinsi adalah ruang-ruang yang terdapat di dalam rumah besar tersebut. sedangkan kabupaten dan kota adalah kamar-kamar yang ada di dalam masing-masing ruangan tersebut. Lalu siapakah Presiden di dalam rumah besar tersebut, ia adalah kepala rumah tangganya dan menteri-menteri sebagai pembantu presiden adalah pembantu dari kepala rumah tangga, semisal tukang kebun, juru masak, satpam, juru cuci, dll. Sehingga tidak layak apabila ada kementerian yang mengatakan dirinya adalah “bapak” dari daerah otonom di Indonesia, karena para menteri dan lembaganya itu tidak lebih dari para pembantu kepala rumah tangga yang bertugas merawat rumah besar tersebut agar tetap nyaman untuk dihuni.

Standard
Relax

Kandangan, Kota Lawas di Hulu Barito..

Mendarat hari kemarin di kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan untuk melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Kandangan di Kab. Hulu Sungai Selatan. Pada awalnya saya sedikit ragu dengan infrastruktur di wilayah tujuan karena memang belum pernah sekalipun saya ke kota tersebut selain hanya mendengar namanya ketika sarapan ketupat bila sedang mengunjungi daerah lain di Kalimantan Selatan. Dua setengah jam kurang lebih, setelah melewati Kota Martapura yang legendaris itu dan Kabupaten Tapin, tibalah kami di Hulu Sungai Selatan.

Yang saya ketahuk sebelumnya hanyalah bahwa Kalimantan Selatan memang termasuk Provinsi yang sudah sda sejak awal Indonesia merdeka, dan beberapa kabupaten di dalamnya pun sudah terbentuk tidak lama setelah itu, namun yang baru saya ketahui adalah bahwa untuk wilayah hulu sungai barito, Kab. HSS -singkatan untuk kabupaten ini-adalah yang tertua dan induk dari beberapa kabupaten lain disini. Pada monumen berbentuk ketupat yang menjadi salah satu landmark Kota Kandangan, tertera bahwa HSS sudah berdiri secara de facto berdasarkan undang-undang sejak tahun 1950 atau lima tahun saja setelah Indonesia merdeka. Sedangkan kebudayaan masyarakatnya sudah ada jauh sebekum itu. Hal ini saya sadari ketika melihat tata kota yang cukup teratur menyerupai beberapa kota lain di Indonesia yang juga sudah berdiri sejak lama dan sempat mengalami sentuhan perencanaan tata kota bangsa belanda. Hal ini cukup bisa saya nikmati pada blok-blok wilayahnya yang teratur dan rapi, tidak semrawut.

Hal lain yang cukup menyenangkan di daerah ini selain  masyarakatnya yang ramah, agamis dan jarang sekali terlibat konflik, adalah pada ke-khasan kulinernya yaitu ketupat kandangan dan dodol, dan sebagaimana wilayah Kalimantan Selatan lainnya yang begitu umum dengan masakan ikan gabus (haruan) dan telur bebek. Sedangkan telur ayam jarang digunakan di sini. Walaupun di hari kedua ini saya sudah harus memulai berhati hati karena peningkatan konsumsi telur bebek – yang lebih gurih itu – dan santan pada masakan ketupat dan laksanya. Oya, yang disebut laksa di daerah ini adalah masakan yang hampir sama dengan buras di kalimantan timur hanya saja menurut saya disini lebih kental kuahnya dan lebih kuat rasanya.

Belum cukup banyak yang bisa saya tuliskan tentang daerah ini di hari kedua saya disini selain beberapa hal diatas dan sedikit sekali informasi tentang beberapa objek wisata alam disini seperti loksado dan pemandian air panas yang rencananya akan saya kunjungi setelah saya selesaikan tulisan ini…🙂

#Dunia tidak akan menjadi lebih baik selama kita tidak merubah diri kita menjadi lebih baik…

Standard